Diare datang tidak memandang siapapun, termasuk anak-anak dan balita. Hal itu disebabkan daya tahan tubuh mereka yang masih rendah. Ironisnya, tak sedikit orang tua yang menyepelekan penyakit ini sehingga banyak anak yang mengalami dehidrasi berat dan yang berujung pada maut. Oleh karena itu, tak heran jika di Indonesia diare adalah salah satu dari 10 penyakit yang paling sering terjadi pada anak-anak. Seorang yang dinyatakan menderita diare dapat mengandung lendir dan darah, tergantung pada penyebabnya. Gejala ikutan lainnya adalah demam dan muntah. Kadangkala gejala muntah dan demam mendahului gejala mencretnya. Terjadinya diare bisa disebabkan dua hal, yakni infeksi bakteri dan noninfeksi. Noninfeksi bisa berupa makanan yang tidak cocok dengan usus sehingga ditolak. Pada kasus diare, usus besar yang seharusnya menyerap air malah mengeluarkan air. Dengan demikian, feses menjadi encer dan penderita mengalami dehidrasi. Pada penderita diare, 70% kandungan feses adalah air. Jika penderita kekurangan air hingga 25%, dampaknya bisa fatal bahkan meninggal. Sebab, kekurangan 2% cairan tubuh saja sudah bisa menganggu metabolisme. Diantar penyebab diare tersebut yang paling sering adalah karena infeksi dan keracunan makanan. Penyebab infeksi bisa karena bakteri, virus, protozoa dan parasit. Dan penyebab diare karena infeksi terbesar adalah karena virus, yaitu rotavirus. Sedangkan diare yang disebabkan oleh kuman biasanya disebarkan melalui rute fekal-oral, yaitu makanan yang dikonsumsi kontak dengan tinja. Perjalanan kuman ini dapat langsung melalui tangan, makanan, minuman, tanah atau perantara binatang seperti lalat, kecoa dan tikus. Tingkat keparahan diare dapat ditentukan berdasarkan derajat dehidrasi yaitu diare tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, sedang dan berat. Penilaian derajat ini dapat ditentukan berdasarkan beberapa parameter seperti perbandingan berat badan sebelum dan sesudah diare. Dari jumlah berat badan yang turun dapat ditentukan tingkat derajat dehidrasi. Jika berat badan turun <5%, berarti telah terjadi dehidrasi ringan, sedangkan 10% berarti derajat sedang, dan >10% adalah dehidrasi berat. Jadi orangtua penting untuk mengetahui berat badan anaknya sebelum terjadi diare. Selain itu, penentuan derajat dehidrasi dapat dinilai berdasarkan tanda-tanda vital seperti kesadaran, laju napas, laju nadi, dan suhu. Dapat juga dilihat rasa haus anak, apakah anak tampak haus dan sangat kehausan. Kemudian berdasarkan pemeriksaan fisik yaitu kecekungan ubun-ubun (jika ubub-ubun belum menutup) dan mata, selaput lendir mulut dan bibir basah atau kering. Pun dari penilaian turgor (kekenyalan) kulit, dan menghitung jumlah urin yang keluar. Derajat keparahan ini akan berpengaruh terhadap pengobatan dan komplikasi yang mungkin terjadi. Bagaimana menghentikan diare pada anak dan balita? Walaupun kebanyakan penderita diare sembuh tanpa mengalami kesulitan, akan tetapi sebagian kecil dapat mengalami komplikasi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, seperti gangguan elektrolit, demam, asidosis, hipokalemia, kejang, ileus, intoleransi laktosa, muntah dan gagal ginjal. Bagaimana diare yang perlu diwaspadai? Jika volume feses dalam jumlah banyak, sangat encer seperti air beras, berbau busuk, berlendir atau berdarah dan waranya berubah, segera bawa anak atau balita Anda ke Dokter sehingga tidak terjadi dehidrasi, karena kalau sering buang air akan menimbulkan kekurangan cairan dalam tubuh. Bila anak menderita diare dan belum menderita dehidra, segera berikan minum sebanyak 10ml per kilogram berat badan setiap kali mencret agar cairan tubuh yang hilang bersama tinja dapat diganti untuk mencegah terjadinya dehidrasi, sehingga mencegah terjadinya kematian. Pada keadaan dehidrasi berat napas tampak sesak karena tubuh kekurangan zat besi (menderita asidosis). Bila terjadi kekurangan elektrolit dapat kejang. Sehingga penyakit diare dapat mengakibatkan kematian bila dehidrasi tidak diatasi dengan baik dan dapat mencetuskan gangguan pertumbuhan (kurang gizi) bila tidak diberikan terapi gizi maupun pengobatakan yang baik. Oleh karena itu, prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang (rehidrasi), dapat melalui mulkut (minum) maupun melalui infus (pada kasus dehidrasi berat). Kendari dapat menyebabkan kematian, sebagian besar diare pada anak akan sembuh tanpa pemberian antibiotik dan antidiare. Jangan lupa segera membawa anak atau balita anak ke fasilitas kesehatan terdekat dari rumah agar anak atau balita mendapat pengobatan/penanganan secara memadai oleh dokter di puskesmas maupun rumah sakit (*)dr.Indri Frensi Moniung adalah Manager Penunjang Medis RS.Provita Jayapura